Berbagi Nama Ilahi dan Gelar Ilahi (lanjutan)


3 MENIT BACA
Langkah Kecil untuk Pertumbuhan Rohani Anda!


15 April 2013
359.     Berbagi Nama Ilahi dan Gelar Ilahi (lanjutan)
Yahweh dan El
Anda mungkin sudah maklum bahwa bani Israel memuja Yahweh (Ibrani: YHWH). Bagi mereka, itulah nama pribadi Sang Pencipta, penguasa yang berdaulat atas semesta. Nama itu mereka keramatkan, sampai-sampai tabu untuk diucapkan. Ketika membacanya dalam Kitab Suci Ibrani, mereka akan melafalkan kata Adonai, “Tuan(ku)” atau “Tuhan(ku),” bukannya Yahweh. Jadi, nama pribadi diganti dengan gelar.

Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh kebanyakan terjemahan Alkitab, termasuk Terjemahan Baru (TB) Indonesia yang kita gunakan sesehari. Setiap kali berpapasan dengan kata “TUHAN” (huruf besar semua) dalam Perjanjian Lama TB, sebetulnya kita sedang berpapasan dengan nama Yahweh atau Yah (kependekan dari Yahweh). Kata Adonai sendiri diterjemahkan dalam Perjanjian Lama TB menjadi “Tuhan” (huruf besar T saja).

Orang Kanaan, di lain pihak, memuja El. Ia diagungkan mereka dengan gelar-gelar luhur, di antaranya: bāniyu binwāti (‘pencipta segala makhluk’), ’abū banī ’ili (‘bapa ilah-ilah’), ‘abū ‘adami (‘bapa manusia’), dan qāniyunu ‘ôlam (‘pencipta kekal’). Di Kejadian 21:33 kata ‘ôlam muncul dalam gelar Ibrani untuk Allah (’ēl ‘ôlam = ‘Allah yang Kekal’).

---
Dikutip dari buku Tuhan Gunung atau Tuhan Alam Semesta?  (Samuel Tumanggor, 2011: hal. 47-48), seizin Literatur Perkantas.

Esok: Berbagi Nama Ilahi dan Gelar Ilahi (lanjutan)